Tips Agar Anak Rajin Belajar

Belajar adalah tabungan masa depan yang sangat menjanjikan. Dengan belajar seseorang mendapat jaminan sebesar 500% untuk memperoleh keuntungan. Dan resiko 0,00% kerugian. Untuk itu belajar sangat perlu diterapkan pada anak sejak usia sedini mungkin. Sayangnya, banyak sekali orang tua yang mengeluh saat menyuruh anak mereka belajar dengan berbagai alasan yang keluar dari mulut sang anak. Baik itu, capek, malas, ingin main, pusing, rewel atau yang lainya. Bagaimana membuat anak senang belajar?

  1. Ciptakan ruang belajar yang nyaman dan mengasyikan.
  2. Agar anak betah berlama-lama dengan pelajaran mereka, ciptakan tempat belajar yang mengasyikan dan nyaman buat anak.
    Seperti menciptakan ruang belajar sesuai keinginan anak. Anak sangat suka warna biru, cat ruang belajar mereka dengan warna biru. Kalau perlu dukung dengan pernak-pernik yang mereka senangi. Hal tersebut semata-mata untuk membangun semangat anak.
  3. Jangan berikan anak setumpuk buku untuk dibacanya.
    Jangan pula meletakan setumpuk buku dekat sang anak belajar, karena itu akan membuatnya pusing dan stress. Cukup ada satu buku di meja belajar sebagai bacaannya.
  4. Sediakan selalu buku tulis untuk menemani anak belajarnya.
    Buku tulis terkadang berfungsi untuk menghilangkan kejenuhan anak. Jika anak jenuh dengan bacaannya maka ia akan mengalihkan kejenuhannya dengan menulis. Dan anda juga bisa mengajarkannya untuk menulis apa yang telah dibacanya. Selain melatih anak senang menulis, dengan menulis juga diyakini memperkuat hafalan.
  5. Matikan TV pada jam belajar anak.
    Jika anak sedang belajar jangan sesekali menyalakan TV. Selain memecah konsentrasi anak, tentunya anak lebih memilih berlari menonton TV daripada meneruskan bacaannya.
  6. Keluarga ikut belajar.
    Jika anak sedang belajar, sebaiknya orang tua juga ikut belajar. Baik membaca Koran atau yang lainnya. Lakukan kegiatan itu di dekat anak, supaya anak termotifikasi.
  7. Bercerita tentang orang sukses.
    Ceritakan pada anak tentang perjalanan orang sukses dengan begitu anak akan termotifasi.
  8. Berikan pujian.
    Jangan lupa berikan pujian setelah anak anda selesai belajar. Pujian akan membuat anak anda lebih percaya diri dan bersemangat dalam belajar. Jangan sekali-kali menyuruh anak anda belajar dengan memaksa apalagi kasar. Tanamkan pada anak bahwa belajar adalah kewajiban dan kebutuhan.
  9. Kenali tipe belajar dominan si anak ( pendengar atau penglihat ) dan giring untuk belajar dengan metode yang sesuai dengan tipe belajar si anak.
  10. Berikan materi belajar yang sesuai dengan perkembangan anak.
    Dengan demikian, anak tidak akan merasa jenuh dengan materi yang dianggapnya terlalu mudah dan akan merasa putus asa jika materi belajarnya terlalu sulit. Jadi pintar-pintar saja memilah materi belajar yang sesuai dengan si anak.
  11. Berikan waktu jeda belajar setiap 20 menit.
    Dengan begitu belajar anak akan lebih efektif. Karena sesuai penelitian anak bisa berkonsentrasi selama 20 menit.
  12. Biasakan memberi PR pada anak.
    Biasakan membari PR pada anak dengan begitu anak akan disiplin untuk tetap belajar. Jika pihak sekilah tidak memberikan PR, orang tua dapat berinisiatif untuk memberinya PR. Jika anda kesulitan dalam hal ini, anda dapat membelikan anak anda LKS untuk dikerjakan. Atau orang tua dapat berkomunikas pada pihak sekolah untuk membantu masalah ini.
  13. Libatkan dia dalam membali buku.
    Ajak anak anda untuk memilih bukunya sendiri. Atau sesekali ajak anak anda untuk jalan-jalan ke perpustakaan.
  14. Jam khusus belajar.
    Tetapkan jam belajar untuk anak anda setiap harinya. Pada jam yang telah ditentukan sang anak diwajibkan untuk belajar. Lambat laun anak akan disiplin dengan sendirinya. Biarkan anak anda bermain, berinteraksi dengan temannya di luar jam belajar.

Semoga anak-anak kita senantiasa diliputi kesuksesan. Semoga bermanfaat.

Agar Anak Rajin Sholat

Siapa sih orang tua yang tidak ingin anaknya rajin belajar,atau kakak mana yang tidak senang melihat adiknya rajin belajar. Saya kira temen-temen semua setuju kalau semua orang ingin buah hati atau adiknya rajin belajar.

Nah tapiiii….tidak semua anak akan muncul begitu saja menjadi anak yang rajin. Sering kali, faktor lingkungan menjadi faktor dominan ketimbang faktor dalam diri si anak. Lebih-lebih ni, setelah saya perhatikan, sekarang banyak banget acara televisi anak-anak yang ditayangkan pada jam-jam efektif belajar untuk anak. Banyak kan sekarang acara-acara kartun yang ditayangkan mulai sehabis maghrib sampai kira-kira jam 9 malam??padahal jam jam tersebut merupakan jatah belajar anak.

Jika dalam tilisan Software Belajar untuk Anak ( TK & SD ) dapat membuat belajar semakin menyenangkan, dalam postingan kali ini akan dibahas sedikit tips untuk membuat anak/adik kita tambah rajin belajar yang saya dapatkan dari beberapa sumber.
Chekidot..

  1. Buat si anak terbiasa mengerjakan PR. Kalau perlu tanya setiap hari apakah ada PR atau tidak, dan jangan segan-segan untuk menemani anak mengerjakannya. Hal ini akan melatih keterbiasaan untuk belajar.
  2. Sesekali memberikan janji kepada anak bila telah mencapai point tertentu. Misal kalau rangking di kelas aan diberi boneka,dll. Hal itu akan memotivasi anak untuk rajin bekajar dan lama kelamaan akan menjadi kebiasaan untuk si anak.
  3. Ciptakan lingkungan belajar di rumah. Misal papa mama membaca koran di dekat si anak,,atau yang lain.
  4. Ciptakan suasana yang menyenangkan, seperti mendekor ruang belajar anak dengan tema ceria dan mendukung belajar si anak. Ada lagi yaitu menggunakan alat belajar yang menyenangkan, seperti apikasi sedarhana, games, dll ( Baca Software Belajar untuk Anak ( TK & SD ) ) Jangan memberikan tekanan, ancaman, dan paksaan agar anak belajar.
  5. Kenali tipe belajar dominan si anak ( pendengar atau penglihat ) dan giring untuk belajar dengan metode yang sesuai dengan tipe belajar si anak.
  6. Berikan waktu jeda belajar setiap 20 menit akan membuat belajar lebih efektif. Kaena sesuai penelitian anak bisa berkonsentrasi hanya pada 20 menit awal.
  7. Berikan materi belajar yang sesuai dengan perkembangan anak, karena anak akan merasa jenuh dengan materi yang dianggapnya terlalu mudah dan akan merasa putus asa jika materi belajarnya terlalu sulit. Jadi pintar-pintar saja memilah materi belajar yang sesuai dengan si anak.
  8. Memberi pelajaran tambahan untuk anak, baik di sekolah maupun mendatangkan guru les ke rumah. Tapi harus diperhatikan agar pemberian les atau pelajaran tambahan itu jangan sampai membebani anak.
  9. Orangtua harus bisa menjalin kerjasama dengan pihak sekolah untuk mengatasi kekurangan sekolah. Misalnya, membantu sekolah untuk meningkatkan kegiatan ekstra kurikuler sekolahnya. Orangtua jangan hanya menuntut sekolah saja, melainkan berusaha membangun komunikasi dengan sekolah.

Nah ituah beberapa tips yang bisa kita praktekan dirumah untuk meningkatkan semangat belajar anak/adik kita. Selamat mencoba dan semoga anak/adik kita bisa menjadi seseorang yang membanggakan kedua oran tua 🙂

Birrul Walidain

Di Antara Fadhilah (Keutamaan) Berbakti Kepada Kedua Orang Tua.

Pertama
Bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah amal yang paling utama. Dengan dasar diantaranya yaitu hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata :

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ : اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ : قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ : بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ : قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ : اَلْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai Allah ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, Pertama shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya), kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah” [Hadits Riwayat Bukhari I/134, Muslim No.85, Fathul Baari 2/9]

Dengan demikian jika ingin kebajikan harus didahulukan amal-amal yang paling utama di antaranya adalah birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua).

Kedua
Bahwa ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu HIbban, Hakim dan Imam Tirmidzi dari sahabat Abdillah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma dikatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رِضَا الرَبِّ فِى رِضَا الوَالِدِ و سُخْطُ الرَبِّ فِى سُخْطِ الوَالِدِ

“Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” [Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid-), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152)]

Ketiga
Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami yaitu dengan cara bertawasul dengan amal shahih tersebut. Dengan dasar hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ibnu Umar, dia berkata :

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada suatu hari tiga orang berjalan, lalu kehujanan. Mereka berteduh pada sebuah gua di kaki sebuah gunung. Ketika mereka ada di dalamnya, tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi pintu gua. Sebagian mereka berkata pada yang lain, ‘Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu lakukan’. Kemudian mereka memohon kepada Allah dan bertawassul melalui amal tersebut, dengan harapan agar Allah menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu diantara mereka berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan aku mempunyai istri dan anak-anak yang masih kecil. Aku mengembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang telah larut malam dan aku dapati kedua orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang lalu aku mendatangi keduanya namun keduanya masih tertidur pulas. Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya. Aku tidak akan memberikan kepada siapa pun sebelum susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun. Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anak-anaku. Ya Allah, seandainya perbuatan ini adalah perbuatan yang baik karena Engkau ya Allah, bukakanlah. “Maka batu yang menutupi pintu gua itupun bergeser” [Hadits Riwayat Bukhari (Fathul Baari 4/449 No. 2272), Muslim (2473) (100) Bab Qishshah Ashabil Ghaar Ats Tsalatsah Wat-Tawasul bi Shalihil A’mal]

Ini menunjukkan bahwa perbuatan berbakti kepada kedua orang tua yang pernah kita lakukan, dapat digunakan untuk bertawassul kepada Allah ketika kita mengalami kesulitan, Insya Allah kesulitan tersebut akan hilang. Berbagai kesulitan yang dialami seseorang saat ini diantaranya karena perbuatan durhaka kepada kedua orang tuanya.

Kalau kita mengetahui, bagaimana beratnya orang tua kita telah bersusah payah untuk kita, maka perbuatan ‘Si Anak’ yang ‘bergadang’ untuk memerah susu tersebut belum sebanding dengan jasa orang tuanya ketika mengurusnya sewaktu kecil.

‘Si Anak’ melakukan pekerjaan tersebut tiap hari dengan tidak ada perasaan bosan dan lelah atau yang lainnya. Bahkan ketika kedua orang tuanya sudah tidur, dia rela menunggu keduanya bangun di pagi hari meskipun anaknya menangis. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan kedua orang tua harus didahulukan daripada kebutuhan anak kita sendiri dalam rangka berbakti kepada kedua orang tua. Bahkan dalam riwayat yang lain disebutkan berbakti kepada orang tua harus didahulukan dari pada berbuat baik kepada istri sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma ketika diperintahkan oleh bapaknya (Umar bin Khaththab) untuk menceraikan istrinya, ia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ceraikan istrimuu” [Hadits Riwayat Abu Dawud No. 5138, Tirimidzi No. 1189 beliau berkata, “Hadits Hasan Shahih”]

Dalam riwayat Abdullah bin Mas’ud yang disampaikan sebelumnya disebutkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua harus didahulukan daripada jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Begitu besarnya jasa kedua orang tua kita, sehingga apapun yang kita lakukan untuk berbakti kepada kedua orang tua tidak akan dapat membalas jasa keduanya. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma melihat seorang menggendong ibunya untuk tawaf di Ka’bah dan ke mana saja ‘Si Ibu’ menginginkan, orang tersebut bertanya kepada, “Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku.?” Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, “Belum, setetespun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu” [Shahih Al Adabul Mufrad No.9]

Orang tua kita telah megurusi kita mulai dari kandungan dengan beban yang dirasakannya sangat berat dan susah payah. Demikian juga ketika melahirkan, ibu kita mempertaruhkan jiwanya antara hidup dan mati. Ketika kita lahir, ibu lah yang menyusui kita kemudian membersihkan kotoran kita. Semuanya dilakukan oleh ibu kita, bukan oleh orang lain. Ibu kita selalu menemani ketika kita terjaga dan menangis baik di pagi, siang atau malam hari. Apabila kita sakit tidak ada yang bisa menangis kecuali ibu kita. Sementara bapak kita juga berusaha agar kita segera sembuh dengan membawa ke dokter atau yang lain. Sehingga kalau ditawarkan antara hidup dan mati, ibu kita akan memilih mati agar kita tetap hidup. Itulah jasa seorang ibu terhadap anaknya.

Keempat
Dengan berbakti kepada kedua orang tua akan diluaskan rizki dan dipanjangkan umur. Sebagaimana dalam hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ، وَيَنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi” [Hadits Riwayat Bukhari 7/72, Muslim 2557, Abu Dawud 1693]

Dalam ayat-ayat Al-Qur’an atau hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dianjurkan untuk menyambung tali silaturahmi. Dalam silaturahmi, yang harus didahulukan silaturahmi kepada kedua orang tua sebelum kepada yang lain. Banyak diantara saudara-saudara kita yang sering ziarah kepada teman-temannya tetapi kepada orang tuanya sendiri jarang bahkan tidak pernah. Padahal ketika masih kecil dia selalu bersama ibu dan bapaknya. Tapi setelah dewasa, seakan-akan dia tidak pernah berkumpul bahkan tidak kenal dengan kedua orang tuanya. Sesulit apapun harus tetap diusahakan untuk bersilaturahmi kepada kedua orang tua. Karena dengan dekat kepada keduanya insya Allah akan dimudahkan rizki dan dipanjangkan umur. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi bahwa dengan silaturahmi akan diakhirkannya ajal dan umur seseorang.[1] walaupun masih terdapat perbedaan dikalangan para ulama tentang masalah ini, namun pendapat yang lebih kuat berdasarkan nash dan zhahir hadits ini bahwa umurnya memang benar-benar akan dipanjangkan.

Kelima
Manfaat dari berbakti kepada kedua orang tua yaitu akan dimasukkan ke jannah (surga) oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bahwa anak yang durhaka tidak akan masuk surga. Maka kebalikan dari hadits tersebut yaitu anak yang berbuat baik kepada kedua orang tua akan dimasukkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ke jannah (surga).

Dosa-dosa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala segerakan adzabnya di dunia diantaranya adalah berbuat zhalim dan durhaka kepada kedua orang tua. Dengan demikian jika seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya, Allah Subahanahu wa Ta’ala akan menghindarkannya dari berbagai malapetaka, dengan izin Allah.

[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Darul Qolam. Komplek Depkes Jl. Raya Rawa Bambu Blok A2, Pasar Minggu – Jakarta. Cetakan I Th 1422H /2002M]

Sumber: https://almanhaj.or.id/404-keutamaan-berbakti-kepada-kedua-orang-tua-dan-pahalanya.html

Kekuatan Doa dan Tahajjud

Menjelang petang, langit menampakan wajah muramnya dengan gumpalan awan hitam yang saling kejar-kejaran. Gerimis air hujan akhirnya mulai berjatuhan. Sejenak kuhentikan perjalanan untuk berteduh sekalian menunaikan sholat Maghrib, di masjid salah satu perumahan Kota Surabaya.

Usai sholat Maghrib, tak sengaja aku melihat lelaki paruh baya, teman baru yang belum lama ini aku kenal, sebut saja Pak Ahmad. Tanpa pikir panjang langsung aku hampiri untuk menyapanya.

Assalamu’alaikum, Pak Ahmad,” sapaku sambil mengulurkan tangan.

Eh, Mas Obby, Wa’alaikumsalam, alhamdulillah, kabar baik Mas. Kamu sendiri gimana kabarnya?” jawab Pak Saiful sambil menawarkan diri agar saya bersedia singgah ke rumahnya.

Oh.. nggih. Alhamdulillah, kabar saya baik juga, Pak.”

Sebelum gerimis semakin menderas, kami berdua segera beranjak menuju rumah Pak Ahmad yang jaraknya tak jauh dari masjid. Sekitar sepuluh menit perjalanan, akhirnya kami tiba juga di rumahnya.

Silahkan masuk, Mas.” Pak Ahmad memintaku duduk dan menunggu sejenak. Barangkali ia masih ada keperluan dengan keluarga ataupun dirinya sendiri. Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan.

Di ruang tamu berukuran tiga kali tiga meter aku menunggu. Tepat dari depan tempatku duduk, ada sebuah rak buku kecil yang sisi depannya tertutup kaca bening transparan yang bisa digeser ke samping kiri dan ke kanan. Beragam kalender duduk tertata rapi memenuhi ruang di dalamnya.

Beberapa menit kemudian, Pak Ahmad keluar dari ruang tengah dan duduk di sebelah kananku. Lalu mulai membuka obrolan, ia lebih banyak bercerita tentang perjalanan hidupnya. Aku pun hanya bisa menjadi pendengar setia, sesekali menganggukan kepala sekadar untuk mengiyakan pernyataannya.

Ada satu kisah menarik yang membuatku takjub dan tercengang. Entah itu apa, aku meyakininya sebagai sebuah keajaiban Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab, tidak masuk akal sama sekali jika peristiwa itu bisa terjadi, kecuali memang sudah menjadi kehendak-Nya.

Putra bungsunya, Raihan, menderita penyakit seperti tumor atau daging tumbuh di bagian punggung sebelah kanan. Berulang kali ia sudah membawanya ke dokter ataupun pengobatan alternatif. Namun, tak membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Justru sedikit demi sedikit kian hari ukurannya semakin membesar.

Suatu hari, Bu Heni, istri Pak Ahmad, meminta untuk melakukan operasi pengangkatan daging tumbuh dari punggung putranya. Namun, hal itu tidak bisa mereka lakukan. “Saat itu, saya tidak punya biaya untuk operasi, Mas,” ujarnya dengan nada sendu.

Tetapi, akhirnya penyakit itu bisa sembuh tanpa dioperasi, tanpa diperiksakan ke dokter ataupun pengobatan alternatif lagi. Bahkan, daging tumbuh itu hilang dengan sendirinya serta tidak meninggalkan bekas sama sekali. Bagaimana bisa?

Peristiwa itu terjadi tepat pada hari raya Idul Fitri tahun 1431 Hijriyah atau 2010 Masehi. Saat itu, Pak Ahmad ingin memandikan putra bungsunya, persiapan untuk menyambut lebaran. Ia terkejut tidak lagi mendapati daging tumbuh di punggung sebelah kanan Raihan saat melepaskan kaosnya.

Pak Ahmad meyakini jika hal itu adalah jawaban dari doa yang ia panjatkan usai sholat Tahajud pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Ia berazam akan melakukan sholat Tahajud dengan cara yang berbeda dari rutinitas malam-malam biasanya, baik saat malam genap maupun ganjil.

Saat itu, saya memilih masjid al-Akbar untuk melaksanakan sholat Tahajud pada malam ganjil. Sementara, pada malam genapnya saya sholat di masjid perumahan ini, Mas,” terangnya.

Jika jadwalnya ke masjid al-Akbar, sekitar jam setengah dua saya sudah berangkat dari rumah. Jadi, saat tiba di sana, selain sholat Tahajud, saya juga punya waktu untuk i’tikaf,” sambungnya.

Subhanallah, ternyata doa-doa yang ia panjatkan (doa meminta kesembuhan atas penyakit yang diderita putranya.red) usai sholat Tahajud, Allah hijabahi langsung. Semua itu terjadi berkat niat yang kuat, kesabaran serta keistiqomahan Pak Ahmad dalam menjaga dan melaksanakan azam yang telah ia programkan.

Semoga kisah yang dialami Pak Ahmad bisa kita ambil hikmahnya. Segala sesuatu yang mungkin bagi kita tidak mungkin bisa terjadi tapi jika Allah sudah berkendak, tidak ada yang tidak mungkin bisa terjadi. Untuk menghadirkan kehendak-Nya tentu dengan usaha dan do’a dalam kesabaran serta keistiqomahan.

 

Sumber : Pecinta Anak Yatim